jpnn.com, JAKARTA - Pasar properti Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap punya peluang tumbuh meski ekonomi global masih penuh tekanan.
Namun, karakter pasar properti sudah berubah. Pertumbuhannya tidak lagi banyak digerakkan spekulasi, tetapi kebutuhan riil konsumen.
Hal itu menjadi pembahasan dalam Seminar Property Outlook bertajuk 'Membaca Arah Perkembangan dan Peluang Pasar Properti di Tahun 2026' di Main Atrium PIK Avenue, Jumat (24/4/2026).
Seminar tersebut digelar dalam rangkaian ASG Expo 2026. Dua pembicara utama, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede dan Pengamat sekaligus Konsultan Properti Anton Sitorus, memaparkan arah ekonomi dan pasar properti tahun ini.
Josua mengatakan prospek ekonomi domestik Indonesia masih cukup kuat. Konsumsi rumah tangga dan investasi dalam negeri masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Prospek ekonomi domestik kita masih cukup kuat. Prospek investasi dalam negeri juga masih cukup kuat,” ungkap Josua.
Menurut Josua, stabilitas inflasi menjadi faktor penting bagi sektor investasi. Kondisi itu juga berpengaruh besar terhadap properti karena daya beli masyarakat sangat dipengaruhi pergerakan harga kebutuhan.
Dia menilai keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun dapat membantu menjaga inflasi tetap terkendali.








































