jpnn.com, JAKARTA - Forum Sinologi Indonesia (FSI) mengingatkan pemerintah agar mewaspadai risiko dominasi investasi digital China di Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan transformasi digital nasional.
Peringatan tersebut disampaikan dalam seminar publik bertajuk “Diplomasi Digital China di Asia Tenggara: Peluang dan Tantangan bagi Indonesia” yang digelar di Jakarta, Senin (25/5).
Ketua FSI Johanes Herlijanto, mengatakan meningkatnya arus digitalisasi membuat kebutuhan akses teknologi dan infrastruktur digital di Indonesia semakin besar.
Menurut dia, masuknya investasi dan produk digital asal China memang dapat mempercepat transformasi menuju masyarakat digital, namun pemerintah tetap harus memperhatikan risiko ketergantungan teknologi.
Johanes menilai dominasi investasi digital China berpotensi menimbulkan ancaman terhadap kedaulatan digital Indonesia apabila tidak diimbangi penguatan regulasi dan diversifikasi rantai pasok teknologi.
“Pemerintah juga diharapkan menggunakan otoritasnya untuk memaksa vendor asing untuk tunduk pada yurisdiksi hukum Indonesia, termasuk kepatuhan pada UU Perlindungan Data Pribadi,” ujar Johanes.
Seminar tersebut turut menghadirkan Guru Besar Ilmu Komputer Teddy Mantoro, peneliti Australian Strategic Policy Institute Gatra Priyandita, serta pemerhati keamanan regional Victor P. Tobing.
Dalam pemaparannya, Victor Tobing mengatakan penguasaan teknologi menjadi faktor penting bagi suatu negara untuk menjaga kepentingan nasional. Dia menilai Indonesia perlu bersikap adaptif dan lincah dalam menghadapi perkembangan teknologi global.








.jpg)





























