jpnn.com, BEKASI - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyinggung beragam persoalan pembangunan mulai dari proyek normalisasi sungai, tata ruang yang semrawut hingga alokasi APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kabupaten Bekasi tahun ini.
"Kalau proyek jalan ketahuan. Ngeruk sungai, emang lo mau turun? Berapa, nih, ngeruk sungainya? Panjang 3 kilometer, kedalaman 5 kilometer. Gimana ukurnya? Lo nyemplung aja," ujar Dedi saat Safari Ramadan 1447 Hijriah di Lapangan Den Sakti, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Minggu.
Dia menyebut praktik alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebab banjir berulang di Kabupaten Bekasi.
Sawah diuruk untuk perumahan, situ ditimbun hingga kawasan resapan yang berubah fungsi dengan izin tata ruang.
"Rawa diuruk, situ diuruk, bikin rumah. Tata ruangnya diizinkan, pemerintahnya mengizinkan. Giliran banjir, Pak Dedi," katanya.
Menurut dia, ketika sungai hendak dinormalisasi, sering muncul penolakan karena lahan bantaran sudah dikuasai.
"Banjir, kagak mau sungainya dinormalisasi. Banjir kagak mau, hutan ditebangin. Hutan berubah jadi permukiman. Ya pasti banjir takdirnya," tegasnya.
Di sela kegiatan, Dedi bahkan memanggil Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja untuk menjelaskan alokasi anggaran daerah.










































