jpnn.com, JAKARTA - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan ada dampak dari tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Rizal mengaku dampaknya terhadap perekonomian Indonesia ini biasanya berupa arus keluar portofolio jangka pendek dari obligasi, saham, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan pada likuiditas pasar.
"Jadi pengaruh awalnya lebih terasa di pasar keuangan dibanding sektor riil," ujar Rizal dikutip Senin (23/2).
Rizal melanjutkan, tekanan paling cepat biasanya terjadi pada rupiah karena sensitif terhadap pergerakan dolar global dan arus modal.
Dia menyebut, penguatan dolar AS dan capital outflow berpotensi membuat rupiah melemah sementara.
Sedangkan IHSG cenderung bergerak volatil dengan sektor komoditas relatif lebih bertahan, dibanding sektor manufaktur dan perbankan.
"Namun sifatnya masih sentiment driven, sehingga arah pasar akan sangat tergantung stabilitas global beberapa hari ke depan, bukan semata faktor domestik," ujar Rizal.
Rizal mengungkapkan pada pekan depan investor akan menunggu tiga hal utama, di antaranya arah kebijakan suku bunga The Fed dan data inflasi AS, respons kebijakan Bank Indonesia (stabilitas rupiah dan likuiditas), dan kepastian implementasi tarif AS terhadap negara mitra termasuk Indonesia.










































