jpnn.com - Selama beberapa dekade terakhir, narasi pembangunan sering kali lebih fokus pada industrialisasi perkotaan.
Namun, periode 2020-2025 menjadi titik balik yang menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan "jantung" yang menjaga kestabilan bangsa di tengah krisis global.
Petani kini bukan lagi sekadar pekerja sektor pertanian, melainkan benar-benar sebagai Penyanggah Tatanan Negara Indonesia (Petani).
Hal ini pertama kali diperkenalkan oleh Ir. Soekarno pada tahun 1952 untuk mengingatkan pentingnya peran petani dalam menjaga ketahanan pangan dan kedaulatan pangan Indonesia serta sebagai penopang perekonomian nasional.
Latar belakang penulisan ini didasarkan pada kebutuhan untuk menganalisis bagaimana kesejahteraan petani (NTP), kesempatan kerja serta program Makan Bergizi Gratis (MBG) membentuk segitiga emas kemandirian ekonomi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung oleh Asta Cita Presiden Prabowo menunjukkan pergeseran paradigma sektor pertanian dari hal yang marginal menjadi pendorong utama perekonomian nasional.
Fokus utamanya terletak pada hubungan antara peningkatan gizi generasi penerus bangsa, penciptaan lapangan kerja baru di daerah pedesaan dan perkotaan serta penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi makro.
Data menunjukkan bahwa sinergi antara ketiga aspek tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan gizi nasional, tetapi juga menciptakan kemandirian ekonomi desa yang berkelanjutan melalui peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP).












































