jpnn.com, JAKARTA - Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang dibentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lebih dari 636 ribu laporan penipuan sejak November 2024 hingga akhir Juli 2026, dengan lebih dari 600 ribu rekening terkait penipuan telah diblokir.
Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO & Bank, Asep Haekal mengatakan keamanan transaksi digital dapat dimulai dari kebiasaan sederhana seperti menjaga kerahasiaan PIN dan OTP, mewaspadai tautan atau permintaan transaksi yang mencurigakan, serta memastikan setiap informasi dan bantuan diperoleh melalui kanal resmi.
Hal ini menjadi langkah penting untuk membantu melindungi akun dan meminimalkan risiko penipuan digital.
“Keamanan dan kepercayaan pengguna merupakan prioritas OVO. Kami percaya keamanan digital tidak hanya dibangun melalui teknologi, tetapi juga melalui kewaspadaan bertransaksi,” ujar Asep di Jakarta, Selasa (1/9).
Menurut dia, ekosistem digital yang aman dibangun bersama melalui teknologi yang terus diperkuat oleh penyedia layanan serta pengguna yang semakin waspada dan bijak dalam setiap aktivitas digital.
Kolaborasi antara teknologi yang semakin kuat dan pengguna yang semakin cermat menjadi fondasi penting dalam menciptakan pengalaman bertransaksi digital yang aman dan tepercaya.
OVO juga terus mengembangkan berbagai lapisan keamanan untuk melindungi akun dan transaksi pengguna melalui tiga pilar utama, yaitu perlindungan autentikasi di sisi pengguna, Fraud Detection System (FDS), dan inovasi kecerdasan buatan (AI) yang bekerja di balik layar.
“OVO secara konsisten mendorong edukasi agar pengguna semakin mampu mengenali dan menghindari berbagai modus penipuan digital,” jelas Asep.








































