jabar.jpnn.com, BOGOR - Isu ketahanan pangan kembali menjadi sorotan. Direktur SEAMEO Biotrop, Edi Santosa, mengingatkan bahwa melimpahnya stok beras nasional harus diimbangi dengan manajemen penyimpanan dan distribusi yang memadai agar kualitas dan kandungan nutrisinya tetap terjaga.
Edi menjelaskan bahwa beras memiliki masa prima yang relatif singkat jika disimpan lebih dari empat bulan tanpa pengelolaan optimal, kualitasnya akan menurun secara alami.
“Jika disimpan dalam empat bulan warnanya sudah berubah dari putih menjadi agak kuning. Perubahan warna itu menandai kualitasnya sudah turun. Makin lama disimpan, ‘tenaganya’ makin habis, tinggal tepung dan seratnya saja,” ujarnya.
Edi merujuk pada estimasi Perkumpulan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) tahun 2025 yang memperkirakan surplus beras dapat mencapai hingga 8 juta ton apabila panen berjalan baik.
Surplus tersebut dinilai sebagai capaian positif dalam program swasembada pangan yang digelorakan Presiden Prabowo Subianto.
Namun, menurut Edi, jumlah besar tersebut dapat menjadi bumerang apabila kualitas pengadaan sejak awal tidak dijaga, seperti kadar air gabah yang terlalu tinggi saat masuk penggilingan atau penyimpanan di gudang yang tidak memenuhi standar.
“Kalau kualitas turun terlalu jauh, bisa jadi beras tersebut tidak layak dikonsumsi. Misalnya, umurnya sudah lebih dari dua tahun, ditambah lagi kualitas saat masuk ke gudang mungkin tidak sesuai standar,” katanya.
Ia menambahkan, konsumsi beras nasional saat ini didominasi beras medium sekitar 60 persen dan beras premium 40 persen.















.jpeg)

























