jpnn.com, JAKARTA - Pendiri Poros Musyawarah Masyarakat Blok Lapaopao (PORMMAL), Ihwan Kadir menilai saat ini arah hilirisasi nikel di Indonesia mulai terasa ganjil.
Di depan publik, Ihwan menyebut pemerintah bicara tentang nasionalisme, kedaulatan sumber daya alam, tentang bagaimana Indonesia tidak boleh lagi dijajah asing melalui ekspor bahan mentah.
“Tetapi, ketika ada perusahaan murni yang benar-benar mencoba membangun smelter dengan darah, keringat dan modal anak bangsa sendiri, negara justru tampak dingin,” kata Ihwan melalui keterangan tertulis pada Jumat (15/5).
Menurut dia, nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia ikut disorot karena dianggap menjadi figur utama dalam narasi hilirisasi nasional.
Namun di kawasan lingkar tambang, lanjut Ihwan, keresahan masyarakat mulai terasa akibat perlambatan aktivitas industri nikel.
“Pedagang kecil mulai mengeluh omzet turun, kontraktor lokal mulai kehilangan ritme kerja, sopir hauling mulai takut kendaraan mereka berhenti beroperasi, warung-warung mulai sepi, dan masyarakat mulai bertanya, kalau industri melambat, kami harus makan apa?” ujarnya.
Di Morowali Utara, Ihwan mengungkapkan perlambatan industri smelter mulai berdampak nyata terhadap ekonomi masyarakat lingkar tambang.
Sejumlah kios dilaporkan terancam tutup akibat stagnasi aktivitas kontraktor tambang dan gejolak PHK pekerja kontrak.











































