jatim.jpnn.com, SURABAYA - Inovasi penanganan gangguan jiwa melalui tindakan bedah saraf atau psychosurgery mulai diperkenalkan di Surabaya. Namun, dokter menegaskan prosedur ini bukan solusi utama dan hanya diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi sangat spesifik.
National Hospital Surabaya bekerja sama dengan West China Hospital Sichuan University menghadirkan layanan tersebut, yang diklaim menjadi yang pertama di Indonesia Timur.
Meski demikian, tindakan ini hanya dilakukan setelah pasien tidak lagi merespons terapi obat dan telah melalui evaluasi ketat.
Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital dr Heri Subianto mengatakan keputusan operasi harus melibatkan tim multidisiplin, terutama psikiater, guna memastikan tindakan benar-benar diperlukan.
“Ini bukan terapi lini pertama. Semua pasien harus melalui asesmen komprehensif sebelum diputuskan menjalani operasi,” ujwr dr Heri, Jumat (24/4).
Prosedur ini menyasar pasien dengan gangguan seperti skizofrenia dengan perilaku agresif, Obsessive Compulsive Disorder (OCD), hingga kasus adiksi berat. Tujuannya adalah membantu mengontrol gejala yang sudah tidak terkendali dengan terapi konvensional.
Teknologi yang digunakan memanfaatkan MRI 3 Tesla dan kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan titik saraf secara presisi. Tindakan dilakukan secara minimal invasif menggunakan jarum kecil tanpa operasi terbuka.
Meski menawarkan harapan baru, Heri menekankan bahwa intervensi ini memiliki standar keamanan tinggi dan tidak bisa diterapkan secara luas tanpa pertimbangan matang.





































