jpnn.com, JAKARTA - Transisi menuju ekonomi sirkular di Indonesia menjadi makin penting di tengah meningkatnya tekanan terhadap sumber daya, rantai pasok, dan industri yang lebih efisien.
Di Indonesia, penerapan ekonomi sirkular pada sektor-sektor prioritas diproyeksikan dapat memberikan kontribusi hingga Rp 638 triliun terhadap PDB, menciptakan 4,4 juta pekerjaan hijau, dan mengurangi emisi hingga 126 juta ton CO2e pada 2030.
Namun, tingkat sirkularitas masih relatif rendah, dimana pada 2023, input materi sirkular tercatat sekitar 9 persen, tingkat pemanfaatan material 4 persen, dan tingkat daur ulang 5 persen.
Melihat kondisi itu, Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat implementasi ekonomi sirkular sekaligus mendukung transformasi industri hijau Indonesia melalui Circular Economy Forum 2026, yang diselenggarakan sebagai bagian dari Indonesia Sustainability 360 Forum 2026 di SMESCO Convention Hall, Jakarta.
Direktur Eksekutif IBCSD Dr. Indah Budiani menyampaikan implementasi ekonomi sirkular membutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan berbagai aktor, kebutuhan, dan solusi yang selama ini masih berjalan secara terpisah.
“Circular Economy Hub yang sedang kami dorong diharapkan dapat menjadi infrastruktur kolaborasi,” ujar Dr. Indah.
Dia menyebut Circular Economy Hub menjadi tempat di mana kebutuhan perusahaan bertemu dengan solusi, inovasi bertemu dengan pembiayaan, dan pengalaman implementasi menjadi evidence bagi kebijakan.
Circular Economy Hub diharapkan memainkan tiga peran utama, yaitu menyediakan wawasan berbasis bukti untuk mendukung pengembangan kebijakan dan strategi ekonomi sirkular; mendorong implementasi.








































