Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Realistis untuk Menjaga APBN

3 hours ago 19

Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Realistis untuk Menjaga APBN

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, seperti Pertamax ditentukan oleh pasar. Foto: Ricardo/jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah resmi menyesuaikan harga Pertamax (RON 92) menjadi  Rp 16.250 per liter pada Rabu (10/6). 

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, seperti Pertamax ditentukan oleh mekanisme pasar.

"Saya kira RON 92 atau Pertamax itu sebetulnya BBM nonsubsidi. Harganya biasa ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar, sesuai dengan harga keekonomian," kata Fahmy, Rabu.

Menurut dia, negara lain juga telah melakukan penyesuaian BBM non-subsidi sebagai langkah realistis di tengah meningkatnya tekanan fiskal akibat lonjakan harga minyak dunia.

Sedangkan di Indonesia, pemerintah sebelumnya telah menahan kenaikan harga Pertamax sejak Maret 2026 untuk meredam dampak ekonomi kepada masyarakat. 

Namun, seiring meningkatnya beban kompensasi yang harus dibayarkan kepada Pertamina, ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas sehingga penyesuaian harga akhirnya sulit dihindari.

"Betul. Sebenarnya tidak bisa ditahan lagi oleh pemerintah untuk mempertahankan harga Pertamax agar tidak naik, karena beban fiskalnya semakin berat," ujarnya.

Fahmy menilai kebijakan tersebut berpotensi membantu pemerintah mengurangi tekanan terhadap APBN

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, seperti Pertamax ditentukan o

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |