jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Upaya pemerintah mempercepat pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi krisis sampah nasional kini menghadapi tantangan teknis serius. Karakteristik sampah domestik Indonesia yang didominasi sampah organik basah dinilai dapat menurunkan efisiensi energi dan membengkakkan biaya operasional.
Guru Besar Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM Prof Wiratni mengatakan teknologi insinerasi (pembakaran) yang digunakan pada PSEL sangat bergantung pada tingkat kekeringan sampah.
Kandungan air yang tinggi menghambat optimalisasi panas, yang pada akhirnya memangkas volume listrik yang dihasilkan per ton sampah.
"Keberadaan air akan mengurangi efisiensi utilisasi panas sehingga jumlah energi listrik per ton sampah akan berkurang," ujar Prof Wiratni, Senin (27/4).
Menurutnya, jika sampah yang masuk ke fasilitas PSEL tidak dipilah dengan ketat, pengelola terpaksa melakukan modifikasi alur kerja untuk pengeringan tambahan, baik secara mekanis maupun termal. Hal ini dipastikan akan menambah beban investasi pada peralatan dan biaya operasional karena kebutuhan energi yang lebih besar.
Wiratni juga meluruskan kekhawatiran mengenai potensi kekurangan bahan bakar jika masyarakat mulai aktif memilah sampah. Ia menegaskan bahwa sampah yang terpilah (kering) justru jauh lebih efektif.
"Sebetulnya kalau sampah terpilah dengan baik sehingga merupakan sampah kering, untuk menghasilkan 1 kWh cukup dengan jumlah sampah yang lebih sedikit karena efisiensi panasnya lebih baik," jelasnya.
Sebagai solusi, pemerintah disarankan untuk mengoptimalkan unit pengolahan berbasis komunitas yang sudah ada, seperti Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).






































