jpnn.com, JAKARTA - Kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dinilai berpotensi meningkatkan tekanan hebat terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memandang situasi ini menuntut pemerintah untuk segera meninjau kembali ketahanan anggaran negara.
Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah menilai dalam kondisi harga minyak global yang terus meningkat, tekanan terhadap penyesuaian harga BBM domestik kini menjadi hal yang hampir tidak terhindarkan.
Menurut Piter, tantangan utamanya saat ini, sejauh mana pemerintah mampu menahan kenaikan tersebut melalui kebijakan fiskal yang tersedia.
Keputusan antara mempertahankan stabilitas harga atau kesehatan anggaran menjadi pilihan yang krusial.
“Dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik tentu meningkat. Jika pemerintah menahan kenaikan melalui subsidi, maka konsekuensinya ada pada peningkatan beban fiskal. Sebaliknya, jika dilepas maka tekanan terhadap inflasi bisa menjadi lebih kuat,” kata Piter dalam keterangan, dikutip Minggu (8/3).
Posisi Indonesia sebagai negara yang bergantung pada pasokan energi luar negeri membuat tekanan tersebut menjadi semakin relevan.
Kesenjangan antara jumlah produksi energi di dalam negeri dan tingkat konsumsi masyarakat menjadi faktor pelemah utama.










































