jpnn.com, JAKARTA - Lonjakan harga kemasan plastik diduga memicu kenaikan harga minyak goreng domestik.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menyebut konflik geopolitik Timur Tengah mempengaruhi kenaikan harga energi fosil dunia hampir dua kali lipat.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah juga mengakibatkan pasokan bahan baku terganggu, sehingga menyebabkan kenaikan harga produk turunan energi fosil, seperti plastik.
Efek domino ini berimbas pada berbagai sektor, terutama produk yang berkaitan erat dengan kemasan plastik, seperti minyak goreng.
"Harga energi fosil dunia meningkat dari sekitar US$60 per barel sebelum perang menjadi lebih dari US$110 per barel. Akibatnya, semua produk turunan dari energi fosil seperti plastik mengalami kenaikan," kata Tungkot dikutip dari keterangan pers, Jumat (24/4).
Indonesia diketahui tercatat sebagai produsen sekaligus konsumen minyak goreng sawit terbesar di dunia.
Oleh karena itu, kenaikan harga minyak goreng domestik akibat mahalnya kemasan plastik, tentu akan berdampak terhadap masyarakat.
Tungkot menjelaskan ada tiga jenis minyak goreng sawit yang dikonsumsi masyarakat dalam negeri.








































