jateng.jpnn.com, SEMARANG - Dampak El Nino tahun ini diperkirakan lebih panas dibandingkan 2023. Di Jawa Tengah (Jateng), sejumlah langkah antisipasi mulai dimatangkan untuk menghadapi potensi gelombang panas 'godzilla' tersebut.
Kepala BPBD Jateng Bergas C Penanggungan mengatakan dampak El Nino akan berkaitan langsung dengan datangnya musim kemarau yang diprediksi berlangsung mulai April hingga enam bulan ke depan.
“Fenomena ini bergerak dari Indonesia timur, kemudian ke wilayah tengah, baru ke barat. Artinya, wilayah timur akan lebih dulu terdampak,” ujarnya kepada JPNN.com, Kamis (15/4).
Dia menjelaskan pola angin yang bergerak dari timur membawa massa udara kering, berbeda dengan angin dari barat yang cenderung membawa uap air dari Samudra Hindia.
“Kalau dari timur, anginnya kering karena melewati banyak pulau. Ini yang menyebabkan berkurangnya kandungan uap air dan memicu kondisi kemarau,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh BPBD kabupaten/kota se-Jawa Tengah untuk memperkuat kesiapsiagaan.
Langkah yang disiapkan antara lain pemetaan titik rawan kekeringan serta penyediaan sarana dan prasarana sumber daya air, seperti tandon air di wilayah yang kerap terdampak saat musim kemarau.
“Antisipasi tentunya sarana prasarana sumber daya air, lokasi titik yang biasa (kekeringan, red) itu dikomunikasikan untuk menyiapkan tandon air,” kata Bergas. (ink/jpnn)





































