Carbon Trading: Tambang Devisa Baru yang Masih Terabaikan

4 hours ago 18

Oleh: Aswin Usup

 Tambang Devisa Baru yang Masih Terabaikan

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Ir. Aswin Usup, MSc PhD. Foto: source for JPNN

jpnn.com - PERDAGANGAN karbon (carbon trading) saat ini bukan lagi sekadar wacana lingkungan, melainkan telah berkembang menjadi industri global bernilai tinggi.

Pada 2025, nilai pasar karbon dunia mencapai sekitar USD 114,3 miliar, dan diproyeksikan melonjak menjadi USD 482 miliar pada 2035 (Global Market Insights Inc.).

Itu menunjukkan bahwa karbon telah menjadi komoditas ekonomi strategis -bahkan setara dengan sektor energi dan keuangan dalam skala global.

Namun, di tengah pertumbuhan pesat tersebut, Indonesia justru masih berada pada tahap awal dan belum memaksimalkan potensinya secara optimal.

Indonesia memiliki salah satu cadangan karbon terbesar di dunia, terutama dari sektor kehutanan dan lahan gambut.

Pemerintah sendiri memperkirakan potensi kredit karbon Indonesia mencapai 13,4 miliar ton CO?. Jika dikonversi ke pasar global, nilainya dapat mencapai USD 130 miliar hingga USD 670 miliar (Carbon Credits).

Angka tersebut bukan jumlah yang kecil, melainkan sangat signifikan. Bahkan jika hanya 10% saja yang berhasil dimonetisasi dalam satu dekade, Indonesia berpotensi memperoleh puluhan miliar dolar—setara dengan kontribusi sektor ekspor utama seperti batu bara atau kelapa sawit.

Sebagai akademisi kehutanan, saya melihat ini sebagai “tambang devisa baru” yang berbasis ekologi. Tidak seperti sumber daya ekstraktif, karbon justru memberi insentif untuk menjaga hutan tetap berdiri. Sayangnya, realisasi di lapangan masih jauh dari potensi tersebut. Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) yang diluncurkan pada 2023 memang telah menjadi langkah maju, tetapi volumenya masih sangat terbatas.

negara harus hadir dan mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari perdagangan karbon. Persoalan utama Indonesia bukan pada kekurangan potensi

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |