jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Indonesia tengah menghadapi tantangan serius di sektor kesehatan awal tahun ini. Kementerian Kesehatan RI mencatat sebanyak 8.224 kasus suspek campak telah dilaporkan dalam periode singkat, yakni mulai 1 Januari hingga 23 Februari 2026.
Menanggapi situasi ini, Pakar Kesehatan Anak dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dr. Ratni Indrawanti mengatakan meski angka tersebut mengkhawatirkan, situasinya masih berada dalam kendali selama langkah-langkah strategis dilakukan secara masif.
Menurut dr. Ratni, kunci utama untuk mencegah status darurat kesehatan nasional terletak pada tiga pilar utama, yaitu pemantauan aktif terhadap persebaran virus di lapangan, tindakan medis segera bagi mereka yang teridentifikasi suspek, dan memperluas jangkauan imunisasi guna membangun kekebalan kelompok.
"Selama kasus ini ditangani dengan surveilans yang baik dan peningkatan cakupan vaksinasi, masih bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan darurat kesehatan," ujar Ratni dalam keterangan resminya di Yogyakarta, Minggu (8/3).
Meningkatnya angka suspek campak tidak terjadi tanpa alasan.
Ratni menyoroti penurunan cakupan vaksinasi yang dipicu oleh beberapa kendala teknis dan sosial, di antaranya karena keterbatasan akses layanan kesehatan di daerah terpencil, jarak tempuh yang jauh menuju fasilitas medis, dan menurunnya intensitas kegiatan imunisasi rutin di tingkat masyarakat.
Selain itu, Ratni juga menilai bahwa saat ini marak informasi keliru mengenai vaksin di media sosial yang menggerus kepercayaan masyarakat.
Risiko Fatal yang Sering Disepelekan
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan campak adalah persepsi masyarakat yang menganggapnya sebagai penyakit ringan.





































