jateng.jpnn.com, BANJARNEGARA - Warga yang tinggal di wilayah perbukitan dan lereng di Kabupaten Banjarnegara diminta meningkatkan kewaspadaan selama Maret 2026. Curah hujan yang diperkirakan tinggi berpotensi memicu bencana tanah longsor di sejumlah titik rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara Aji Piluroso mengatakan wilayah Banjarnegara termasuk daerah dengan potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi, sehingga masyarakat perlu lebih waspada saat intensitas hujan meningkat.
“Banjarnegara menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. Karena itu masyarakat, terutama yang tinggal di lereng atau perbukitan, harus meningkatkan kewaspadaan saat curah hujan tinggi,” kata Aji di Banjarnegara, Jumat (6/3).
Peringatan tersebut merujuk pada surat peringatan dini potensi gerakan tanah yang diterbitkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah. Surat itu disusun berdasarkan kompilasi peta kerentanan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta prakiraan curah hujan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Dalam surat bernomor B/500.10.5/92/2026 tertanggal 4 Maret 2026 disebutkan curah hujan di wilayah Jawa Tengah pada Maret diperkirakan berkisar antara 151 milimeter hingga lebih dari 500 milimeter. Angka tersebut masuk kategori menengah hingga sangat tinggi.
Menurut Aji, kondisi itu meningkatkan potensi terjadinya bencana gerakan tanah di sejumlah daerah, termasuk Banjarnegara.
“Curah hujan antara 401 sampai 500 milimeter atau kategori tinggi diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Banjarnegara,” ujarnya.
Bahkan, lanjut dia, curah hujan lebih dari 500 milimeter berpotensi terjadi di wilayah bagian utara Banjarnegara. Kondisi tersebut membuat risiko longsor semakin tinggi, terutama di kawasan dengan tingkat kerentanan tanah menengah hingga tinggi dan curah hujan di atas 300 milimeter.







































