Upah yang Belum Dibayar, Penipuan Pajak, dan Uang yang Raib: Di Balik Industri Penyedia Tenaga Kerja di Australia

3 hours ago 16

 Di Balik Industri Penyedia Tenaga Kerja di Australia

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Susilo mengatakan bahwa ia merasa "sakit hati" karena keluhannya kepada pihak berwenang, termasuk kepolisian Victoria, tidak membuahkan hasil. (ABC News: Ben Butler)

itu Dua tahun setelah mereka bekerja berjam-jam memetik sayuran salad yang akan disajikan di meja makan Natal warga Australia, Tommy dan Susilo masih belum dibayar.

"Kita susah-susah bekerja, panas-panas saat siang terik," kata Tommy asal Indonesia, yang namanya telah diubah untuk melindungi privasinya, kepada ABC.

Ia mengatakan bahwa ia menjadi "sakit hati dan capek."

"Lama bekerja dan enggak dibayar… sangat berat, sangat sangat sedih, tetapi apa yang bisa saya lakukan?"

Rekannya yang lain asal Madiun, Jawa Timur, Susilo, mengatakan bahwa ia telah bekerja lebih dari 100 jam dalam masa-masa sibuk menjelang Natal 2023.

Ia mengatakan bahwa ia masih belum dibayar dan kenangan itu menyakitkan.

"Hujan, panas, saya juga di sini ada keluarga, punya anak kecil dan istri, di rumah ada orangtua, ya pastinya sakit hati."

Tommy dan Susilo termasuk di antara kelompok yang terdiri dari setidaknya 20 pekerja yang, menurut dokumen yang diajukan oleh likuidator dalam proses pengadilan, berhak menerima total lebih dari A$260.000 (sekitar Rp2,6 miliar).

Menurut dokumen pengadilan, setidaknya 20 pekerja berhak menerima upah untuk pekerjaan yang mereka lakukan pada akhir tahun 2023 di Peternakan Corrigan di Melbourne tenggara, yang menurut para ahli merupakan bagian dari masalah yang lebih besar yang menye

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |