Terjepit Kebijakan: Kelas Menengah Membayar Tagihan Ambisi Pemerintah

5 hours ago 15

Oleh: Dipo Satria Ramli, Ekonom CORE Indonesia dan Universitas Indonesia

 Kelas Menengah Membayar Tagihan Ambisi Pemerintah

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Ekonom CORE Indonesia dan Universitas Indonesia Dipo Satria Ramli. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - Kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95) yang menembus lebih dari 30 persen seharusnya tidak dibaca semata sebagai konsekuensi teknis dari tekanan eksternal.

Ia juga merefleksikan struktur prioritas fiskal di dalam negeri: siapa yang dilindungi, siapa yang dibiarkan menyerap guncangan, dan siapa yang pada akhirnya diposisikan sebagai penyangga terakhir.

Dalam konteks ini, kelas menengah Indonesia kembali menjadi pihak yang membayar harga paling mahal.

Saat ini, kelas menengah Indonesia sedang menghadapi tekanan ganda (double pincer) yang menggerus daya beli secara fundamental.

Di satu sisi, dari jalur moneter, Bank Indonesia belum lama ini menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 75 basis poin menjadi 5,5%.

Transmisi kebijakan ini akan segera, dan mungkin sudah, dirasakan melalui kenaikan suku bunga pinjaman, mulai dari KPR, KKB, hingga kredit modal kerja.

Di sisi lain, dari jalur fiskal dan riil, beban biaya hidup terus merangkak naik karena rupiah yang melemah dan inflasi dari luar negeri (imported inflation).

Bahkan sebelum harga BBM non-subsidi dinaikan, kelas menengah sudah lebih dulu menelan pil pahit inflasi pada barang-barang esensial.

Kenaikan harga BBM non-subsidi berdampak pada kelas menengah Indonesia kembali menjadi pihak yang membayar harga paling mahal.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |