jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memiliki tiga opsi untuk menyelamatkan nasib Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo. Salah satunya adalah menghilangkan kebun binatang atau menutup sepenuhnya operasional taman satwa.
Ahli Sejarah Yudi Hamzah, yang juga penulis buku 'Kado untuk Bandung: Taman Menjadi Kebun Binatang'', mengkritik sikap Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang membuka opsi tersebut.
Yudi mengatakan, opsi tersebut seharusnya tidak dikeluarkan oleh Pemkot Bandung. Sebab, kebun binatang adalah fasilitas publik yang sudah ada di Bandung sejak puluhan tahun silam.
"Sebelum di Tamansari, kebun binatang di Bandung sudah ada beberapa hingga akhirnya dibangun Bandung Zoo. Tempat ini sejak jaman dulu sudah didatangi masyarakat dan terpatri dalam memori mereka," kata Yudi dalam sebuah diskusi di Bandung, Rabu (14/1/2025).
Dia menuturkan, saat ini sudah banyak bangunan bersejarah di Kota Bandung yang hilang salah satunya adalah kolam renang Tjihampelas yang sangat fenomenal.
Menurutnya, saat kolam renang itu hilang tahun 2010, banyak masyarakat yang menyayangkan. Hal yang sama ia prediksi akan terjadi apabila pemerintah menghilangkan kebun binatang.
Yudi mencontohkan, anak-anak selama ini hanya melihat binatang seperti gajah, jerapah, atau hewan besar lainnya di televisi atau buku. Mereka baru bisa melihat hewan seperti itu saat datang ke kebun binatang.
"Saya pikir akan ada gelombang protes dari masyarakat karena kita pernah kehilangan Tjihampelas. Dan sekarang pemerintah secara sadar ingin menghilangkan memori kolektif kita," paparnya.
Di sisi lain manfaat dari keberadaan Bandung Zoo ini sangat banyak, bukan hanya sebagai tempat bermain karena ini bisa menjadi tempat edukasi dan ruang terbuka yang bisa dinikmati masyarakat.











































