jpnn.com, JAKARTA - Guru Besar Fakultas Pertanian IPB sekaligus Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Bibit Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa, mengomentari adanya potensi kerugian negara akibat penurunan mutu beras atau disposal.
Masifnya penyerapan cadangan beras pemerintah (CBP) dinilai dapat menyebabkan penumpukan stok di gudang Bulog.
Andreas menyoroti kondisi stok awal tahun di Bulog yang mencapai angka fantastis.
Namun, hal tersebut berisiko tinggi karena kapasitas gudang terbatas dan masa simpan beras memengaruhi kualitas.
Akibatnya, stok beras yang tersimpan dapat mengalami penurunan mutu karena disimpan terlalu lama.
"Stok akhir tahun atau stok awal 2026 saja yang di Bulog masih 3,25 juta ton, sudah Bulog itu hanya 3 juta ton maksimum sehingga lainnya disimpan ke mana. Jadi, itu stok yang sangat besar," ujar Andreas kepada Jpnn, dikutip Selasa (20/1).
Pakar di bidang pertanian tersebut mempertanyakan efisiensi dari stok jumbo di gudang.
Menurutnya, penyimpanan dalam jumlah besar justru merugikan Bulog karena berpotensi harus membuang stok yang rusak.














































