jpnn.com, JAKARTA - Peristiwa Isra Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha sering dipahami sebagai mukjizat spiritual yang meneguhkan keimanan.
Namun, jika dibaca lebih dalam, Isra juga menyimpan pesan sosial dan kebangsaan yang relevan bagi Indonesia hari ini: persatuan umat adalah prasyarat bagi keselamatan bangsa.
Isra bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat suci ke tempat suci lainnya.
Ia adalah simbol keterhubungan. Dua masjid, dua wilayah yang berjauhan, dua konteks sosial yang berbeda, dipertautkan dalam satu perjalanan kenabian.
Pesannya jelas: umat Islam dipanggil untuk melampaui sekat-sekat geografis, identitas, dan kepentingan sempit demi tujuan yang lebih besar, yakni kemaslahatan bersama.
Dalam sejarah Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga pusat peradaban. Di sanalah umat belajar, bermusyawarah, menyelesaikan konflik, dan merawat persatuan.
Ketika masjid kehilangan fungsi sosialnya dan hanya dipahami secara ritual, umat pun berisiko kehilangan daya ikatnya.
Isra Miraj mengingatkan bahwa spiritualitas sejati justru harus melahirkan tanggung jawab sosial.














































