jpnn.com, JAKARTA - Mundurnya Anas Urbaningrum dan kembalinya Gede Pasek Suardika sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) menjadi momentum penting bagi arah baru partai.
Perubahan ini dinilai membuka ruang bagi PKN untuk melakukan rebranding menuju politik yang lebih inklusif dan berakar pada identitas Nusantara.
Direktur Eksekutif IndexPolitica Alip Purnomo menilai dinamika tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan peluang strategis untuk melakukan rekalibrasi arah politik dan kelembagaan partai.
“PKN sedang berada di titik balik. Ini bukan hanya soal figur, tetapi kesempatan untuk mendefinisikan ulang arah perjuangan politiknya,” ujar Alip.
Menurut Alip, kepemimpinan Gede Pasek Suardika menghadirkan peluang yang relatif jarang dimiliki partai politik lain.
“Di bawah kepemimpinan Gede Pasek Suardika, PKN memiliki momentum langka untuk meletakkan dasar kepartaian baru yang lebih dinamis dan relevan dengan tantangan keindonesiaan. Pengalaman politik nasional, latar sebagai putra daerah Bali, serta posisinya yang bukan dari kelompok mayoritas menjadikan Pasek figur strategis untuk mendorong arah baru partai yang lebih inklusif dan berbasis lokalitas,” ujarnya.
Alip menjelaskan penekanan pada lokalitas merupakan respons terhadap problem klasik dalam sistem politik Indonesia, yakni sentralisme kebijakan yang terlalu Jakarta-sentris.
Selama ini, kebijakan nasional dinilai kerap tidak sepenuhnya mencerminkan kebutuhan riil daerah, sehingga memicu ketimpangan dan keterputusan antara pusat dan daerah.








































