jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama pasokan energi dengan Rusia.
Kesepakatan itu dicapai melalui pertemuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev.
Indonesia-Rusia sepakat dalam kerja sama mencakup suplai minyak mentah (crude), LPG, serta pengembangan fasilitas penyimpanan (storage).
Peneliti Pusat Studi Energi dan Sumber Daya Mineral dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Ridho Hantoro menilai tambahan pasokan dari Rusia merupakan langkah taktis yang masuk akal dalam konteks diversifikasi energi nasional. Menurutnya, kebijakan ini dapat memperluas opsi pasokan sekaligus mengurangi risiko konsentrasi impor yang selama ini menjadi salah satu kerentanan Indonesia.
“Tambahan pasokan dari Rusia adalah langkah taktis yang masuk akal untuk memperluas opsi pasok dan mengurangi risiko konsentrasi impor,” ujar Ridho, Jumat (17/4).
Ridho juga memberikan penilaian positif terhadap rencana pembangunan storage yang menjadi bagian dari kerja sama tersebut.
Menurutnya, penguatan infrastruktur penyimpanan justru merupakan langkah yang lebih fundamental dibanding sekadar menambah volume pasokan.
“Pembangunan storage adalah langkah strategis yang lebih fundamental, karena memperkuat ketahanan sistem, bukan hanya menambah volume pembelian sesaat,” kata Ridho.








































