jpnn.com, JAKARTA - Kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di sebuah daycare di Yogyakarta baru-baru ini telah mengguncang nurani publik.
Ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan penuh kasih sayang bagi anak-anak saat orang tua bekerja, justru berubah menjadi tempat terjadinya trauma yang memilukan.
Fenomena ini menjadi alarm keras bagi sistem pengasuhan anak di Indonesia.
Tokoh perempuan nasional Airin Rachmi Diany memandang insiden di Yogyakarta tersebut bukan sekadar statistik kriminalitas, melainkan darurat kemanusiaan yang harus segera direspons dengan kebijakan nyata.
“Hati saya hancur sebagai seorang ibu mendengar kasus di Yogyakarta itu. Seorang anak dititipkan dengan penuh kepercayaan, namun justru menjadi korban kekerasan. Ini bukan hanya soal luka fisik, tetapi soal masa depan yang dirampas dan trauma mendalam yang bisa dibawa seumur hidup," ujar Airin.
Berkaca pada kerentanan anak di lembaga pengasuhan swasta yang kurang pengawasan, Airin menekankan pentingnya kehadiran negara dalam menyediakan fasilitas pengasuhan yang terjamin keamanannya.
Salah satu langkah konkret yang telah dia rintis saat menjabat sebagai Wali Kota Tangerang Selatan (2011-2021) adalah penyediaan layanan Daycare di Gedung Pemkot Tangsel.
Airin menjelaskan bahwa langkah ini diambil berdasarkan pengalaman empiris mengenai kebutuhan ibu bekerja.











































