jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Program Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kembali memakan korban jiwa. Hingga Minggu (28/6), tercatat lima orang peserta meninggal dunia dalam rangkaian pelatihan yang dinilai banyak pihak tidak relevan dengan kebutuhan kompetensi manajer koperasi.
Dosen dan peneliti Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik (DMKP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Subarsono, menegaskan bahwa penggunaan materi seperti baris-berbaris, apel bendera, hingga pelatihan senjata sangat jauh dari deskripsi pekerjaan seorang manajer koperasi.
“Tugas utama manajer koperasi adalah mengeksekusi kebijakan strategis dalam tindakan operasional harian. Mereka harus mengelola staf, mengawasi arus kas, memastikan target penjualan, serta melaporkan kinerja bisnis untuk kesejahteraan anggota,” ujar Subarsono, Minggu (28/6).
Subarsono tidak menampik bahwa disiplin memang penting dalam dunia kerja. Namun, ia menekankan adanya perbedaan fundamental dalam operasionalisasi konsep disiplin.
Dalam dunia militer, kata Subarsono, disiplin diterjemahkan sebagai kepatuhan pada perintah atasan, ketepatan waktu apel, dan keseragaman.
Sedangkan dalam konteks koperasi, disiplin seharusnya dimaknai sebagai ketepatan pelaporan, transparansi, akuntabilitas, tidak menyalahgunakan fasilitas koperasi, serta menjaga integritas layanan kepada anggota.
Menurutnya, pelatihan yang seharusnya diberikan bagi calon manajer KDMP meliputi tata kelola koperasi, manajemen keuangan digital, kewirausahaan, serta pemasaran modern (e-marketing), bukan latihan fisik ala militer.
Runtuhnya Demokrasi Koperasi
Subarsono memperingatkan bahwa memaksakan pendekatan militeristik ke dalam organisasi sipil seperti koperasi memiliki konsekuensi serius.





































