jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin bergerak melemah 29 poin atau 0,16 persen.
Mata uang garuda berada di level Rp 17.722 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.693 per USD.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi memanasnya hubungan antara AS dengan Iran
Pasukan AS menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, yang terletak di Selat Hormuz, pada Minggu (30/8/2026). Ini merupakan serangan pertama yang diketahui dilakukan oleh pihak Amerika terhadap negara Teluk tersebut sejak akhir Juli.
“Sebagai tanggapan, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, demikian dilaporkan media Iran pada hari Senin dengan mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran," ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Negosiasi untuk mengakhiri konflik disebut sedang menemui jalan buntu, sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari 2026.
Sentimen lainnya berasal dari pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole.
Warsh menekankan fokus utama bank sentral saat ini yaitu stabilitas harga, yang mendorong pasar untuk meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pada September, karena masih ada pekerjaan rumah untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.








































