jpnn.com, JAKARTA - Peneliti International Rice Research Institute (IRRI), Prof. Hasil Sembiring menyampaikan kritik keras terhadap tulisan Defiyan Cori yang meragukan capaian swasembada pangan di bawah kepemimpinan Mentan Andi Amran Sulaiman.
Menurutnya, narasi dalam artikel Membenahi Logika Swasembada Pangan (Beras) Yang Mengada-ada Amran Sulaiman tidak lagi berada dalam koridor kritik yang sehat. Ia menilai, tulisan tersebut telah masuk ke wilayah opini yang berpotensi menyesatkan publik.
"Menolak swasembada di tengah fakta surplus bukan lagi kritik, tetapi bentuk penyesatan publik yang berbahaya. Patut kita menduga pernyataan ini berafiliasi mafia beras dan antek asing," tegas Prof. Sembiring, Selasa (21/4/2026).
Ia juga mempertanyakan klaim Defiyan Cori sebagai mantan staf Bappenas. Menurutnya, sebagai analis kebijakan publik, seharusnya Defiyan merujuk pada data tunggal BPS yang kredibel dan sejalan dengan proyeksi lembaga internasional seperti FAO dan USDA, bukan sekadar membangun opini dangkal.
Prof. Sembiring menekankan bahwa klaim pengamat ini sebagai “ekonom konstitusi” semestinya diikuti dengan pendekatan berbasis data, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan nasional. Namun, yang terlihat justru sebaliknya penolakan terhadap data resmi nasional maupun rujukan internasional yang kredibel.
“Kementan dan Mentan tidak mengeluarkan data. Kita hanya gunakan data tunggal BPS sebagai data resmi. Data FAO dan Amerika pun sangat kredibel dan sejalan BPS. Jadi orang ini tersesat pikirannya,” tegas Prof Sembiring.
Ia juga menyoroti inkonsistensi dalam narasi tersebut. Di satu sisi mendorong keterbukaan data, tetapi di sisi lain tidak mampu menunjukkan basis data yang kuat dalam analisisnya sendiri.
“Bicara soal buka data, tetapi tidak memiliki data. Analisis dibangun hanya dari opini dangkal. Ini jelas tidak mencerminkan kapasitas seorang analis kebijakan publik,” katanya.







































