jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Puluhan karangan bunga berisi ucapan duka cita berjajar memanjang, hampir memenuhi sepanjang jalan di kompleks Perum Bayeman Permai, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di sanalah jenazah sang maestro seni rupa Indonesia, Nasirun, disemayamkan pada Sabtu pagi (1/8).
Di tengah suasana yang sendu, lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema dari rumah duka. Ratusan pelayat yang mengenakan pakaian serba hitam datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir.
Antrean warga, kolega, pejabat, hingga sesama seniman yang ingin menunaikan salat jenazah nyaris tak pernah terputus. Semua melangkah penuh haru, mengiringi kepergian sosok yang tidak hanya dikenal jenius di atas kanvas, tetapi juga sangat membumi di kehidupan nyata.
Meski reputasi karyanya melanglang buana hingga panggung internasional, Nasirun dikenal sebagai pribadi yang amat sederhana, ramah, dan tak pernah mau merepotkan orang lain.
Perupa Jumaldi Alfi Chaniago, tetangga sekaligus adik tingkat Nasirun sewaktu berkuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kini menjadi ISI Yogyakarta, mengaku sangat terkejut atas kepergian sang sahabat. Hanya sehari sebelumnya, pada Jumat sore, mereka masih sempat mengobrol hangat. Bahkan dua hari sebelumnya, mereka masih menghadiri pameran bersama sembari bercanda.
"Saya sendiri pas dikasih tahu tadi pagi langsung kaget sekali karena tidak menyangka," kata Alfi.
Alfi menceritakan bahwa Nasirun telah dilarikan ke rumah sakit pada Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB karena mengalami sesak napas berat, sebelum akhirnya diumumkan berpulang sekitar pukul 05.50 WIB.
Belakangan diketahui, Nasirun mengidap pneumonia dan penyakit asam lambung, tetapi tidak pernah mengeluhkan rasa sakitnya kepada teman-teman.








































