jpnn.com - Justru saya yang mereka sebut sebagai petir. Yakni saat saya berkunjung ke kantor pusat Agrinas Pangan Nusantara Selasa pagi awal Maret lalu. Yakni saat saya baru mendarat dari lawatan ke Suzhou sampi Xuzhou.
Padahal petir yang sebenarnya adalah Joao Angelo De Sousa Mota. Setidaknya gelar petir itulah yang saya berikan kepada dirut Agrinas Pangan Nusantara itu. Tapi sang dirut tidak sedang di kantor. Joao sedang rapat evaluasi Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di Mabes TNI di Cilangkap.
Evaluasi seperti itu dilakukan secara konsisten: tiap Selasa pagi. Seminggu sekali. Di Mabes TNI.
Evaluasi lainnya dilakukan setiap hari. Juga konsisten. Tiap pukul 14.00. Selama dua jam. Di kantor pusat Agrinas Pangan. Termasuk di hari Minggu.
Dari evaluasi itu terlihat perkembangan dari hari ke hari. Saat saya ke sana sudah terbaca hampir 3.000 bangunan selesai dikerjakan. Tentu hari ini sudah jauh lebih banyak lagi.
Data hari itu menyebutkan: yang sedang dikerjakan 28.000. Hari ini sudah jauh lebih banyak. Akhir tahun nanti harus selesai semua: 80.000 koperasi.
Saya diajak ke war room. Di situ 37 orang berjajar menghadap layar komputer. Di dinding depan mereka terpampang layar lebar. Angka-angka di layar itu bergerak. Berubah. Bertambah. Itulah angka pergerakan situasi di lapangan.
"Pak Dahlan ingin lihat perkembangan di daerah mana?" tanya Aditya Putra, corporate secretary PT Agrinas Pangan.

.jpeg)






































