jpnn.com, JAKARTA - Praktisi migas Widhyawan Prawiraatmadja menilai penyesuaian harga energi non-subsidi, termasuk gas alam cair (LNG), merupakan konsekuensi yang harus dihadapi di tengah dinamika geopolitik global.
Menurut Widhyawan, harga LNG memang sangat dipengaruhi mekanisme pasar, baik melalui kontrak jangka panjang maupun pembelian spot.
"Spot bisa lebih murah atau lebih mahal seperti kondisi sekarang. Kalau mengikuti harga pasar, naik turun harga adalah hal yang biasa dan itu dihadapi seluruh pengguna LNG," kata Widhyawan kepada wartawan, Selasa (23/6).
Mantan Gubernur Indonesia untuk OPEC periode 2015-2016 itu menjelaskan harga LNG berbasis spot saat ini mengalami kenaikan seiring melonjaknya Japan Korea Marker (JKM), indeks acuan LNG di kawasan Asia Pasifik.
Berdasarkan data pasar, indeks JKM sepanjang 2026 meningkat sekitar 111 persen. "Jadi, memang naik cukup tinggi," ujarnya.
Kenaikan tersebut juga berdampak pada Indonesian Crude Price (ICP) yang menjadi salah satu acuan harga energi di Indonesia. Pada April 2026, ICP tercatat naik sekitar 99 persen dibandingkan rencana awal tahun.
Selain transaksi spot, Widhyawan mengatakan harga LNG juga banyak ditentukan melalui kontrak antara penjual dan pembeli.
"Pembeli yang mempunyai kesepakatan berdasarkan kontrak biasanya menggunakan basis harga minyak atau oil index," tuturnya.








































