jpnn.com, JAKARTA - Sekretaris Jenderal DPD RI Mohammad Iqbal menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektoral dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional. Hal ini disampaikan Iqbal dalam Rapat Koordinasi Mitra Strategis DPD RI di Gedung DPD RI, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4). Iqbal mengingatkan bahwa tidak ada lagi ruang bagi ego sektoran di antara kementerian, lembaga, dan BUMN.
“Tantangan pembangunan hari ini tidak bisa lagi diselesaikan secara sektoral, melainkan kita harus kolaborasi, harus melalui kerjasama yang terintegrasi,” ujar Iqbal dalam pidatonya.
Iqbal menyebutkan bahwa efektivitas fungsi DPD sangat ditentukan oleh kualitas sistem pendukung. Ia mengakui fragmentasi kebijakan masih menjadi kendala utama. “Program berjalan, tetapi tidak selalu terhubung. Anggaran tersedia, tetapi tidak selalu tepat sasaran. Data ada, tetapi tidak selalu terintegrasi,” tegasnya.
Sekjen DPD itu juga mengutip pesan Presiden RI Prabowo Subianto dalam taklimat pada 8 April lalu mengenai tiga hal mendasar. Pertama, tidak boleh ada ego sektoran. Kedua, pemerintahan harus berjalan seamless atau terhubung dan saling mendukung. Ketiga, reformasi birokrasi harus menghasilkan perubahan nyata. “Kita tidak bisa lagi bekerja dalam kota-kota institusi,” kata Iqbal.
Iqbal menjelaskan bahwa DPD RI telah menginisiasi berbagai kegiatan kolaboratif seperti penanaman jagung serentak di empat provinsi pada 2025. Saat ini juga didorong program Green Village bersama Kementerian Desa. “Ini bukan sekedar program, tetapi pendekatan baru bahwa pembangunan harus berbasis kawasan, berbasis ekosistem, dan berbasis kolaborasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa inisiatif kolaborasi ini bukan untuk menambah beban kerja atau menciptakan lapisan birokrasi baru. “Justru sebaliknya, ini adalah upaya untuk menyederhanakan koordinasi, mempercepat pengambilan keputusan, dan memastikan bahwa apa yang kita kerjakan benar-benar berdampak,” jelas Iqbal.
Tiga harapan disampaikan Iqbal dalam forum tersebut, yaitu kesamaan pemahaman tentang pentingnya kolaborasi lintas sektoral, terbentuknya mekanisme kerja yang jelas, serta munculnya inisiatif yang bisa segera dijalankan bersama. “Kita rapat penting, tetapi terlalu banyak rapat tanpa eksekusi itu menjadi gak penting. Ukuran keberhasilan kita bukan pada seberapa banyak rapat, tetapi pada seberapa besar dampak yang kita hasilkan,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengidentifikasi peran strategis Sekjen DPD RI sebagai motor penggerak kolaborasi. Rizal memaparkan dukungan teknis Bulog kepada DPD RI, termasuk program bantuan beras sebesar 3,5 ton per tahun untuk setiap masa reses anggota DPD. “Semenjak beliau, alhamdulillah beliau sudah menginisiasi, membantu atau katakanlah berkolaborasi dengan kami, per tahun kami dukung 3,5 ton beras di dalam setiap empat reses,” ungkap Rizal.



































