jpnn.com, BANDUNG - Sejarawan dan intelektual Vijay Prashad mengatakan bahwa semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan agenda nyata yang masih relevan untuk menjawab krisis global saat ini. Hal itu disampaikannya dalam acara Public Lecture bertajuk “The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis” di Gedung Merdeka, Bandung, Minggu (19/4).
“Ini bukan nostalgia. Ini tentang menyelesaikan masalah hari ini,” kata Vijay Prashad dalam pemaparannya.
Vijay menilai, inti utama KAA bukanlah isu keamanan, melainkan persoalan ekonomi dan kedaulatan atas sumber daya. Menurutnya, negara-negara di Global South sejak awal mempertanyakan mengapa kekayaan alam mereka harus terus mengalir ke luar negeri tanpa memberi manfaat maksimal bagi rakyatnya.
“Mengapa rakyat kita harus menggali kekayaan alam kita, lalu membiarkan kekayaan itu mengalir ke tempat lain? Mengapa kita tidak bisa mengolahnya sendiri, membangun industri kita, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat kita?” ujarnya.
Vijay juga menyinggung bahwa perdebatan tersebut masih terjadi hingga kini, termasuk di Indonesia. “Di Indonesia hari ini Anda masih berdebat soal apa yang harus dilakukan dengan nikel Anda. Setelah 71 tahun, ini masih perdebatan yang sama,” katanya.
Vijay menilai kegagalan negara-negara berkembang dalam membangun kemandirian ekonomi tidak lepas dari tekanan global yang menghambat upaya pembentukan tatanan ekonomi internasional baru pasca-Bandung. “Ketika kita mencoba membangun agenda ekonomi sendiri, selalu ada intervensi. Lihat apa yang terjadi di Brasil, di Kongo, dan di Indonesia pada 1965,” ujarnya.
Menurut Vijay, pesan penting Bandung adalah bahwa negara-negara Global South tidak hanya memiliki hak untuk berbicara, tetapi juga hak untuk didengar dalam sistem internasional. “Tidak ada gunanya berbicara jika tidak didengar. Untuk didengar, kita membutuhkan kekuasaan,” katanya.
Vijay juga mengkritik struktur global seperti Dewan Keamanan PBB yang dinilai tidak merepresentasikan negara-negara berkembang. “Tidak ada anggota tetap dari Afrika. Tidak ada dari Amerika Latin. Padahal mereka bagian besar dari dunia,” ucapnya.






































