jpnn.com, JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) menepis informasi yang menyebut seorang siswi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Bengkulu Utara bernama M. Fatih meninggal dunia akibat mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Wakil Kepala Nanik Sudaryati Deyang, meninggalnya pelajar berusia 8 tahun itu tidak ada kaitannya dengan menu MBG yang didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Giri Kencana.
"Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit," ujar Nanik melalui siaran pers BGN, Selasa (3/3).
Siaran pers BGN itu memerinci pada awalnya Fatih yang pingsan ditangani Rumah Sakit (RS) Lagita Ketahun.
Namun, rumah sakit tersebut tidak melakukan perawatan intensif, tetapi hanya tindakan kegawatdaruratan karena kondisi kesadaran korban sudah menurun.
Tingkat kesadaran Fatih berdasar indikator Glasgow Coma Scale (GCS) pada level 6 atau mengindikasikan cedera otak berat dan mengancam jiwa. Sejumlah rumah sakit di Bengkulu hingga Padang pun sudah dihubungi untuk merawat Fatih.
Akan tetapi, fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) penuh, sehingga korban akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara Bengkulu untuk menjalani pemindaian tomografi terkomputasi (CT scan).
Nanik menyatakan bahwa menurut hasil pemeriksaan medis, termasuk melalui pemindaian tomografi terkomputasi (CT scan), Fatih mengalami pendarahan otak.












































