jpnn.com - Pemilu adalah perayaan kedaulatan rakyat. Pemilu juga arena pertarungan kapital dan kekuasaan bertemu.
Dalam praktiknya, pelanggaran pemilu, dari politik uang, politisasi birokrasi, hingga penyalahgunaan fasilitas negara kerap terjadi secara kasat mata.
Sayangnya, respons dari lembaga penegak hukum pemilu sering antiklimaks.
Lembaga penegak hukum pemilu kini seolah kehilangan “Kuku Pancanaka”, senjata pamungkas Bima.
Bima mengajarkan kepada kita bahwa dalam menegakkan kebenaran, keraguan adalah bentuk pengkhianatan.
Ia tidak peduli seberapa besar atau sakti musuh yang dihadapinya; selama pihak lawan berada di jalan batil, ia akan maju tanpa gentar.
Menghadirkan jiwa Bima di era modern menjadi sangat relevan.
Ketegasan seorang penegak hukum pemilu harus termanifestasikan dalam bentuk progresivitas hukum—keberanian intelektual dan moral untuk menembus kebekuan aturan formal demi menegakkan keadilan substantif.









































