jpnn.com, JAKARTA - Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti, menilai dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menciptakan efek berantai (multiplier effect) merugikan.
Munculnya kabut asap pekat berdampak langsung pada penurunan kualitas udara yang memburuk secara signifikan di berbagai titik.
Kondisi udara yang buruk tersebut memicu gangguan pernapasan akut atau ISPA bagi masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi kebakaran.
Karhutla memaksa terjadinya pengurangan jam kerja produktif bagi para pekerja di wilayah terdampak.
Aktivitas belajar mengajar di sekolah-sekolah pun ikut mengalami kendala serius akibat paparan asap yang berbahaya bagi kesehatan siswa.
"Menurunkan produktivitas, mengganggu transportasi, serta memicu lonjakan biaya kesehatan," kata Esther kepada jpnn.com melalui pesan, Senin (31/8).
Di sisi lain, sektor transportasi dan logistik turut mengalami disrupsi parah, akibat jarak pandang yang sangat terbatas.
Banyak jadwal penerbangan dari dan menuju Kalimantan terpaksa dibatalkan, karena kondisi cuaca yang tidak aman untuk navigasi udara.








































