jateng.jpnn.com, SEMARANG - Embusan angin lereng Pegunungan Kelir terasa sejuk di Jlamprang Wetan, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Di antara hamparan kebun dan perkampungan, aktivitas produksi berjalan seperti denyut kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Di tempat itulah, Saiful Nurudin (37) membangun Tinctori. Sebuah usaha yang bermula dari kebun indigo, dia merawat warisan sang bapak sekaligus membuka jalan bagi warga sekitar untuk tumbuh bersama.
Tinctori mengambil nama dari tanaman bernama latin Indigofera tinctoria, tumbuhan yang menjadi salah satu sumber pewarna alami tertua di dunia. Dari tanaman itu, Saiful dan keluarganya menghasilkan pewarna biru atau nila yang diaplikasikan ke kain batik, shibori menjadi produk fesyen siap pakai.
Tangan Saiful pertama kali tergerak bukan karena sebuah gagasan besar. Bermula setelah berhenti bekerja di Jakarta. Menjadi pengangguran yang mengetuk dirinya membantu ayahanda, Muhammad Muhdi yang lebih dahulu merintis usaha pewarna alami.
"Dulu, saya pertama kali memulai membantu Bapak. Jadi sudah mulai sejak 2008, terus saya ikut membantu pada 2010. Sebenarnya tidak ada ide. Ide awal dari Bapak," kata Owner Tinctori Saiful saat berbincang dengan JPNN.com di kediamannya Jlamprang Wetan, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Kamis (20/8/2026).

Owner Tinctori Saiful Nurudin ketika menunjukkan kain batik menggunakan pewarna alami indigo yang dijemur di halaman rumah produksi di Jlamprang Wetan, Desa Gemawang, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. FOTO: Wisnu Indra Kusuma/JPNN.com.
Muhdi memulai usaha tersebut dengan menanam Indigofera tinctoria pada 2008. Hasil panennya diolah menjadi pasta pewarna biru yang kemudian dijual ke sejumlah perajin batik di Yogyakarta, Klaten, Pekalongan dan Solo.





































