jpnn.com - Legenda Gajah Mada dan Sumpah Palapa ditanam kuat-kuat sejak SD, disuruh hafal di luar kepala.
Indoktrinasi tentang Gajah Mada itu dibuat lengkap dengan wajah rekaan M. Yamin yang konon mirip wajahnya sendiri.
Tentu saja ini bukan semata-mata anekdot lucu, tetapi contoh klasik invented tradition: tradisi yang sengaja diciptakan untuk melayani kepentingan kekuasaan, lalu dijual seolah sudah betul-betul sakral sejak dulu kala.
Namun, sejarah memang soal tafsir. Soal sudut pandang.
Kekuasaan tertentu akan menggunakannya untuk menghegomoni rakyat demi melanggengkan libido kuasanya.
Faktanya sederhana: Indonesia adalah gabungan ratusan kerajaan kecil dan komunitas adat yang tak pernah tunggal.
Ada ribuan tradisi dan budaya, bahasa dan suku. Sukarno-lah yang merajutnya di bawah panji nasionalisme sipil modern bukan di bawah klaim monarki dalam wujud apapun.
Delapan dekade kemudian, arahnya justru berbalik. Max Weber membedakan otoritas legal-rasional (bersumber dari jabatan) dan otoritas tradisional (bersumber dari adat).











































