jpnn.com - Kasus hilangnya WNA Ukraina, Ihor Komarav (28), yang berakhir pada penemuan potongan jasad di Muara Sungai Wos Teben, Ketewel, bukan sekadar tindak pidana pembunuhan biasa.
Ini adalah prahara kemanusiaan dan ancaman nyata terhadap kedaulatan keamanan di Pulau Dewata.
Dengan tuntutan tebusan fantastis sebesar USD 10 juta (Rp 168 Miliar), kita tidak lagi bicara tentang kriminalitas jalanan, melainkan indikasi kuat adanya sindikat kejahatan terorganisir (mafia) yang beroperasi secara dingin di tanah Bali.
Supremasi dan Kepastian Penegakan
Secara yuridis, tindakan ini memenuhi unsur pembunuhan berencana yang dilakukan dengan sangat keji (mutilasi).
Namun, dimensi "penculikan dengan tebusan" menambah bobot kasus ini menjadi kejahatan luar biasa.
Kita mengapresiasi langkah awal kepolisian melalui identifikasi tato dan uji forensik. Namun, identifikasi fisik saja tidak cukup.
Polri melalui Polda Bali harus melacak aliran digital (cryptocurrency atau transfer bank) dan komunikasi di balik video tebusan tersebut sebagai kunci untuk membongkar siapa "aktor intelektual" di balik eksekutor lapangan.

















.jpeg)


























