jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merilis laporan resmi mengenai aktivitas Gunung Merapi untuk periode pengamatan 8 hingga 14 Mei 2026. Berdasarkan hasil pengamatan visual maupun instrumental, gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu dinilai masih memiliki aktivitas vulkanik yang cukup tinggi berupa erupsi efusif.
Oleh karena itu, status aktivitas Gunung Merapi masih ditetapkan pada tingkat level 3 atau siaga.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan data pemantauan terkini menunjukkan pasokan magma di dalam tubuh gunung masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya Awan Panas Guguran (APG) sewaktu-waktu di dalam zona bahaya yang telah dipetakan.
"Suplai magma masih berlangsung dan hal ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," ujar Agus Budi Santoso dalam keterangan resminya.
Sepanjang sepekan terakhir, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya terpantau cerah pada pagi dan malam hari, sementara pada siang hingga sore hari didominasi oleh kabut.
Secara visual, Gunung Merapi terus mengeluarkan asap berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, bertekanan lemah, dan memiliki ketinggian berkisar antara 50 hingga 500 meter di atas puncak.
BPPTKG mencatat telah terjadi tiga kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter yang mengarah ke hulu Kali Krasak.
Selain awan panas, aktivitas guguran lava juga masih sangat intensif terjadi.








































