jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Timbulan sampah di Indonesia terus melonjak hingga mencapai sekitar 52,84 juta ton pada 2025, dengan sampah rumah tangga sebagai penyumbang terbesar (58,58 persen). Sayangnya, mayoritas sampah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan justru memicu krisis lingkungan serta keterbatasan lahan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Prof Rochim Bakti Cahyono saat dikukuhkan sebagai guru besar dalam Bidang Biomassa dan Sampah menjadi Energi di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (11/7).
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Mengubah Limbah Menjadi Energi: Inovasi Teknologi Proses untuk Mendukung Transformasi Industri Nasional”, Rochim menyoroti masih tingginya ketergantungan masyarakat pada paradigma pembuangan akhir.
"Sayangnya, 75 persen dari sampah tersebut berakhir di TPA yang minim pengolahan dan minim pemanfaatan. Akibatnya, potensi kandungan energi dan material yang ada di dalam limbah dan biomassa belum dapat termanfaatkan secara optimal," jelas Dosen Departemen Teknik Kimia UGM tersebut.
Merespons persoalan tersebut, Rochim bersama tim Departemen Teknik Kimia UGM menawarkan solusi berupa konsep Resource Transformation Engineering.
Konsep ini merupakan pendekatan rekayasa yang menempatkan limbah dan biomassa bukan sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat ditransformasikan menjadi energi, material, dan produk bernilai tinggi atau waste to energy.
Pendekatan ini bertumpu pada 5 pilar utama, yaitu sumber daya, teknologi transformasi, produk bernilai tambah, sistem industri berkelanjutan, dan dampak nyata bagi masyarakat.
"Pemanfaatan biomassa dan limbah memberikan manfaat ganda yang mencakup energi, lingkungan, dan ekonomi," ujarnya.





































