jpnn.com, JAKARTA - Rencana penurunan harga BBM non-subsidi diyakini bakal memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian masyarakat, terutama dalam mengatasi fenomena penurunan jumlah kelas menengah di Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa penurunan harga ini sudah semestinya dilakukan.
Hal tersebut mengacu pada pergerakan harga komoditas global yang terus melandai, di mana minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan telah menyentuh angka 68 dolar AS per barel
"Jadi semestinya kalau harga minyak mentah dunia sekarang sekitar 70-an dolar AS per barel, bahkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) itu sudah 68 dolar per barel, mestinya (harga BBM non-subsidi) turun, dan ini juga akan membantu permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat konsumen di Indonesia terutama kaitannya dengan penurunan kelas menengah misalnya," ujar Faisal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Dia menjelaskan harga BBM non-subsidi itu pada dasarnya memang bersifat floating, jadi mengikuti harga minyak mentah internasional.
Berbeda dengan BBM bersubsidi yang di mana itu ada subsidi pemerintah, sehingga untuk penentuan harganya apakah pada saat harga minyak mentah naik atau turun di internasional, maka itu bergantung pada kebijakan pemerintah.
"Menurut saya jangan berlama-lama, jadi semestinya juga dalam waktu dekat (harga BBM non-subsidi) itu sudah bisa diturunkan semestinya, karena pada dasarnya dia floating, jadi harus diturunkan, apalagi kalau kemudian nanti stabil artinya stabil terus di kisaran 70 dolar AS per barel maka sudah waktunya untuk diturunkan," kata Faisal.
Sebagai informasi, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan memberikan masukan strategis kepada jajaran direksi agar segera mempersiapkan eksekusi penurunan harga BBM nonsubsidi secara bertahap mulai awal bulan Juli 2026.








































