jpnn.com, JAKARTA - Memasuki 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, makna merdeka dinilai tidak cukup hanya dikenang lewat seremoni dan gema proklamasi setiap 17 Agustus.
Kemerdekaan harus benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat, mulai dari tersedianya air untuk pertanian, jalan yang membuka akses ekonomi, hingga infrastruktur dasar yang menjangkau pelosok negeri.
Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum (PU) Jemmy Setiawan mengatakan, kemerdekaan politik yang diraih bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 harus terus diterjemahkan menjadi kemerdekaan yang nyata.
Dalam refleksi HUT ke-81 RI bertema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, ia menilai pembangunan infrastruktur menjadi salah satu cara menghadirkan kedaulatan negara langsung di tengah masyarakat.
"Wajah kemerdekaan hari ini bisa terlihat dari air yang mengalir ke sawah petani, jalan yang menghubungkan desa dengan pasar, hingga jembatan yang membantu anak-anak berangkat ke sekolah. Hal yang sama berlaku pada akses masyarakat terhadap air minum, sanitasi layak, dan kawasan permukiman yang semakin baik," katanya, Senin (17/8).
Perjalanan Kementerian PU dalam pembangunan Indonesia juga memiliki hubungan kuat dengan sejarah awal kemerdekaan.
Pada masa awal Republik, kantor pusat PU menempati bekas gedung Departement van Verkeer en Waterstaat di Bandung yang kini dikenal sebagai Gedung Sate.
Gedung Sate bahkan menjadi saksi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Kementerian PU. Pada 3 Desember 1945, sebanyak 21 pegawai PU mempertahankan gedung tersebut dari serangan pasukan Sekutu dan NICA.









































