jpnn.com, JAKARTA - Pakar Ekonomi sekaligus Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan memperingatkan adanya potensi kejatuhan nilai tukar rupiah ke level psikologis baru.
Pernyataan tersebut disampaikan sehubungan dengan dampak eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel.
Berdasarkan data historis, rupiah sangat rentan mengalami depresiasi tajam saat cadangan devisa mulai tergerus.
Anthony menjelaskan dalam kondisi ekonomi yang memburuk, tekanan terhadap rupiah sering kali berakhir pada krisis valuta.
Saat ini, indikasinya terlihat jelas dari hubungan antara penurunan cadangan devisa dan pelemahan nilai tukar.
"Data historis menunjukkan, depresiasi rupiah sebesar 15–20 persen bukan skenario ekstrem, tetapi sudah terjadi berulang,” kata Anthony dikutip Kamis, (26/3).
Dengan posisi rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.000, pelemahan sebesar 20 persen akan membawa nilai tukar ke angka Rp20.400 per dolar AS.
Anthony menekankan angka tersebut didasarkan pada fakta sejarah, bukan sekadar spekulasi.











































