jpnn.com, JAKARTA - Di tengah guncangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia, ekonomi Indonesia dinilai tetap kokoh dan menunjukkan resiliensi yang signifikan.
Great Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 mampu mencapai angka 5,3% hingga 5,6%, sebuah capaian yang disebut sebagai "anomali positif" di kancah global.
Direktur Eksekutif Great Institute, Dr. Sudarto, memaparkan hasil Economic Outlook 2026. Ia menekankan bahwa Indonesia berhasil menjaga tren pertumbuhan di kisaran 5% saat banyak negara maju justru terancam resesi.
Sudarto menjelaskan bahwa ketidakpastian global saat ini dipicu oleh berbagai konflik lintas benua, mulai dari ketegangan di Venezuela, krisis China–Taiwan, perang Rusia–Ukraina yang berlarut, hingga sengketa di Laut China Selatan. Faktor-faktor ini diperparah oleh kebijakan proteksionisme perdagangan dan dampak perubahan iklim.
“Ekonomi Indonesia adalah anomali. Saat dunia berada dalam turbulensi dan krisis, kita masih mampu tumbuh sehat. Ini tidak lepas dari peran Presiden Prabowo Subianto sebagai nakhoda yang menjaga stabilitas kebijakan nasional,” ujar Sudarto dalam konferensi pers bertajuk “Melangkah Maju di Tengah Ketidakpastian” di Jakarta, Sabtu (10/1),
Menurutnya, konsistensi kebijakan dan fokus pemerintah pada penguatan ekonomi rakyat menjadi benteng utama dalam menghadapi fragmentasi perdagangan global.
Optimisme Great Institute didorong oleh efektivitas program prioritas pemerintah yang mulai dirasakan dampaknya secara luas. Hal ini tampak dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga awal 2026, program ini telah menjangkau 53,4 juta orang.
"Selain memperbaiki gizi, MBG menciptakan multiplier effect pada rantai pasok pangan lokal dan penyerapan tenaga kerja," ungkapnya.














































