jpnn.com, JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) mengecam keras Agresi Militer yang telah dilakukan oleh Ameria Serikat (AS) kepada Venezuela.
Ketua DPP GMNI Bidang Geopolitik, Bung Andreas H Silalahi berpendapat bahwa Agresi Militer AS ke Venezuela adalah wujud nyata Imperialisme dan Neo-Kolonialisme yang diepertontonkan secara nyata kepada masyarakat Global.
"Tindakan militer AS sudah keluar dari batasan wajar, kategori ini sudah masuk ke ranah Penjajahan, tidak ada satupun negara, sekuat apapun negara itu, yang berhak memperlakukan kepala negara Lain, sebagai subjek hukum domestiknya sendiri. AS harus sadar bahwa dunia yang luas ini bukan miliknya sendiri," tegas Ketua DPP GMNI Bidang Geopolitik Andreas, Senin (5/1).
GMNI menilai tindakan AS ini adalah bagian dari pola panjang intervensi imperialisme, yang kerap menggunakan dalih demokrasi, antiterorisme, dan terakhir pemberantasan narkoba untuk menjatuhkan, melemahkan atau mengkriminalisasi pemimpin negara-negara yang menolak tunduk pada kepentingan geopolitik Barat.
GMNI mengingatkan, sejarah Indonesia memberikan pelajaran pahit di era Presiden Sukarno.
Sebagai pemimpin yang secara konsisten menentang imperialisme dan menggagas politik Non-Blok dan NEFO, Sukarno menjadi sasaran tekanan Barat yang sistematis.
"Melalui kombinasi operasi intelijen, perang opini dan eksploitasi konflik internal, kekuasaan Bung Karno dilemahkan secara bertahap hingga akhirnya runtuh pasca 1965," tegas Andreas.
GMNI melanjutkan, dokumen dan kajian sejarah menunjukkan bahwa kekuatan asing, terutama AS dan sekutunya, terlibat dalam proses tersebut.













































