Gempa Flores Picu Indikasi Likuifaksi, Begini Penjelasan Badan Geologi

8 hours ago 24

Gempa Flores Picu Indikasi Likuifaksi, Begini Penjelasan Badan Geologi

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Pegawai dan wisatawan asing melihat gedung Hotel Jayakarta yang rusak akibat gempa di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo dengan kedalaman 10 km di 46 kilometer timur laut Labuan Bajo itu terjadi pada pukul 06.13 WITA setelah sebelumnya gempa berkekuatan M 7,7 juga terjadi di timur laut Mbay Nagekeo, NTT. Foto: ANTARA FOTO/Gecio Viana/sth/nz

jpnn.com, BANDUNG - Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026), memunculkan indikasi terjadinya likuifaksi di wilayah Waekokak.

Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan adanya mata air yang keluar beberapa saat setelah gempa terjadi.

"Jenis likuifaksi berupa semburan air berpasir atau lumpur," kata Kepala Badan Geologi ESDM Lana Saria, Minggu (16/8/2026).

Dia menjelaskan likuifaksi tersebut dapat menimbulkan dampak berupa kerusakan tanah serta pondasi yang relatif rendah hingga sedang.

Namun, kondisi likuifaksi di Waekokak disebut tidak seperti yang terjadi di Palu.

"Likuifaksi ini masih dalam kategori relatif aman dan bukan seperti kasus likuifaksi tipe Palu yang dapat mengalir jauh," tuturnya.

Dia melanjutkan pihaknya masih perlu memastikan dengan identifikasi lapangan terkait ini apakah likuifaksi atau bukan.

Sementara itu, gempa bumi yang terjadi dipicu oleh Sesar Naik Busur Belakang Flores.

Gempa M7,7 mengguncang Flores, NTT. Badan Geologi mengungkap indikasi likuifaksi di Waekokak semburan air berpasir atau lumpur.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |