Dear Cinta

10 hours ago 29

Oleh: Dahlan Iskan

Dear Cinta

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Dahlan Iskan. Foto: dok JPNN.com

jpnn.com - Saya lebih suka judul film laris itu dibuat agak mirip dengan judul aslinya: Dear Ah Ma. Bukan Dear You. Terlalu jauh dengan judul asli: Gei Ah Ma de Qing Shu (Surat Cinta untuk Nenek).

Dear You adalah film kedua yang saya tonton tahun ini: karena diundang untuk menontonnya. Bersama para pengusaha besar dan Konsul Jenderal Tiongkok di Surabaya: Ye Su.

Dear Cinta

Film itu memang sangat menyentuh, khususnya bagi keturunan para perantau. Anda sudah tahu: film pertama yang saya tonton tahun ini juga karena kebetulan.

Saat itu saya sedang dalam penerbangan lintas benua. Untuk mengatur agar tidak jetlag saya tidak boleh tertidur. Bacaan sudah habis. Menulis artikel sudah selesai. Kebetulan ada pilihan film ringan yang sudah lama ingin saya tonton: Michael! Tentang Michael Jackson.

Sambil nonton Dear You saya terus bertanya-tanya: mengapa untuk pasar internasional film ini diberi judul Dear You. Di Tiongkok memang sudah biasa: nama asing untuk sebuah merek tidak harus terjemahan dari bahasa asli. Mercy, misalnya, di Tiongkok disebut Benze. Toyota disebut Fengtian. Starbucks dibuat agak mirip dengan artinya: Xing Pa Ke.

Mungkin judul Dear You dimaksudkan untuk mendapatkan makna yang lebih luas tapi tetap ''menyasar'' ke hati: you! Pemakaian kata ''dear' juga begitu. Kata 'dear' sering dipakai sebagai pembuka sebuah surat di masa lalu.

Film Dear You memang bicara tentang surat-surat dari perantauan di zaman jauh belum ada WA. Tahun 1940-an. Surat-surat cinta itu banyak yang tidak sampai ke alamat.

Saya lebih suka judul film laris itu dibuat agak mirip dengan judul aslinya: Dear Ah Ma. Bukan Dear You.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |