jatim.jpnn.com, JOMBANG - Politikus perempuan Yenny Wahid menilai demonstrasi yang disertai kemarahan hingga perusakan fasilitas bukan merupakan kultur Nahdlatul Ulama (NU) yang mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan.
"Sebetulnya demonstrasi, lalu kemudian chaos, marah-marah itu bukan kulturnya NU. Kultur NU itu musyawarah. Semua hal, semua perbedaan seyogianya dimusyawarahkan," kata Yenny di Jombang, Sabtu (29/8).
Pernyataan tersebut disampaikan Yenny merespons dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU, termasuk aksi demonstrasi dan ketegangan yang muncul setelah adanya keputusan dalam forum muktamar.
Menurut Yenny, pihak yang kecewa terhadap keputusan muktamar semestinya menerima hasil yang telah menjadi kesepakatan para muktamirin. Kekecewaan, kata dia, tidak seharusnya dilampiaskan melalui tindakan anarkis.
"Kalau ada yang kecewa dengan hasil keputusan bukan kemudian dengan cara ngamuk-ngamuk, merusak fasilitas, merusak AC dan lain sebagainya. Itu bukan caranya NU," ujar putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut.
Yenny juga menilai keputusan mengenai masa iddah politik perlu diterima karena telah menjadi bagian dari kesepakatan dalam muktamar.
Menurut dia, kebijakan tersebut penting untuk menjaga jarak antara NU dan partai politik. Jarak tersebut diperlukan agar NU tidak mudah dimasuki kepentingan politik praktis dan tetap berada pada posisi netral terhadap seluruh partai politik.
"NU tetap netral, NU berada di atas semua partai politik, NU itu politiknya kebangsaan," katanya.






































